Hotline
Gedung Sate
AdministratorSenin, 22 Agustus 2011 14:21 WIB
Gedung Sate
Gedung Sate sebagai pusat kegiatan Pemerintah Propinsi Jawa Barat, dimana kantor Gubernur Jawa Barat berada. Selain itu Gedung Sate juga merupakan identitas kota (landmark) Bandung. Gedung Sate dibangun pada tahun 1920 - 1924 di Wihelmina Boulevard (yang sekarang dikenal dengan Jalan Diponegoro).

Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara.

Peletakan batu pertama Gedung Sate oleh Nona Johana Caaatherine Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops. dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia pada waktu itu.

Arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Italia dan Moor dari zaman Renaissance dengan gaya arsitektur Hindu dan Islam. Ornamen berciri tradisional seperti pada candi Hindu terdapat dibagian bawah dinding gedung, sedangkan pada bagian tengahnya ditempatkan menara beratap tumpak seperti meru di Bali, sesuatu yang lazim pada gaya arsitektur Islam.

Dinamakan Gedung Sate karena Ornamen enam tiang dengan bulatan berbetuk mirip tusuk sate ditempatkan pada puncak atap tumpak, dan menghabiskan dana sebesar 6.000.000 Gulden.

Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².

Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki.

Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya yang terpelihara dengan baik, tidak heran bila taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Keindahan taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik artis lokal maupun artis nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri bahkan foto pasangan pengantin.


KirimEmail Print PDFPDF ArsipArchive RSSRSS
All About Bandung
  • Sejarah Situ Cileunca
    Sejarah Situ Cileunca
    Belanda membangun Situ Cileunca selama tujuh tahun lamanya yaitu sejak 1919-1926 dengan membendung sungai disana. Luasnya sekitar 180 Ha. Selama pembangunan, Situ yang diapit oleh dua desa yaitu Warnaan dan Pulosari tersebut, Belanda menyewa dua orang pintar untuk bekerja sebagai mandor, yaitu juragan Arya dan Mahesti Maka.
  • Menikmati Braga dari Perancis
    Menikmati Braga dari Perancis
    Braga. Sebuah kawasan beraroma sejarah di Bandung. Aroma macet juga ada, aroma jalan rusak apalagi. Di Braga selain ada banyak bangunan tua yang bisa dilihat, kita bisa juga belanja makanan disini. Ada beberapa resto tua yang berdiri saat pemerintah Belanda masih berkuasa di Bandung.
Jl. Ir. H. Juanda no. 129 Bandung West Java - Indonesia 40132
email: geulishotel@geulis-hotel.com